Rabu, 25 Maret 2015

PENGORBANANKU

Malam ini bulan bersinar terang menampakkan cahaya nya ke berbagai penjuru dunia. Namun, terangnya bulan itu kini tak seterang keadaanku. Aku hanya bisa terduduk di atas rerumputan dan memandangi keindahan ini. Aku tak bisa apa-apa. Aku melihat mobil berhenti di dekat taman yang sedang kududuki ini, terlihat satu keluarga yang sungguh harmonis. Terkadang, aku iri pada itu semua. Aku kecewa pada Tuhan. Mengapa Tuhan memberiku kehidupan seperti ini? Namun, aku tak boleh berputus asa. Aku harus membuat semua orang yang meremehkan aku, menjadi bangga padaku..


Rintikan hujan membuatku terbangun pagi ini. Pukul 04.30. Aku segera bangun dan mandi. Kubuka tudung saji di meja makan, terlihat kosong. Kuputuskan membuat nasi goreng untuk sarapan pagi keluargaku. Sarapan pagiku telah selesai. Ku dengar ada seorang membuka pintu kamarnya, mungkin itu ibu. Seperti biasa, aku melaksanakan pekerjaan rumahku pagi ini. Seperti menyapu dan menyiram tanaman. Saat aku mulai menyiramkan air segar ke tanaman-tanamanku ini, ibu berteriak memanggilku. Entah apa yang terjadi..

Pagi ini, aku berangkat ke sekolah agak kesiangan. Sekolahku terletak sekitar 350 meter dari rumah. Namun, ibu membiarkanku berangkat ke sekolah dengan jalan kaki sendiri. Mungkin ini karena ibu sedang jengkel padaku karena nasi goreng yang kumasak tadi terasa sangat asin bagi ibu, tapi menurutku rasanya seperti biasa. Setapak demi setapak kulalui. “Awali hari dengan senyuman” itu adalah salah satu kalimat motivasi ku untuk lebih bersemangat mengawali hari.

Hari ini diadakan seleksi untuk lomba Sains tingkat nasional. Aku ingin sekali mengikuti itu, siapa tau aku dapat membanggakan orang-orang di sekitar ku nantinya. Tak kuduga, seleksi kali ini aku memperoleh nilai tertinggi di antara lainnya. Tanpa basa-basi, Bu Asih, guru Sains di sekolahku, langsung menyuruhku untuk maju ke lomba Sains tingkat nasional itu. Dan yang mengejutkanku, lomba tersebut tinggal menghitung hari. Tuhan, bantu aku…

Degup jantungku terasa lebih cepat dibanding biasanya. Aku telah berada di arena lomba, tanpa didampingi satu pun anggota keluargaku. 5 menit lagi, acara ini akan dimulai. Soal-soal Sains sudah di depan mata. “Niat, Usaha dan Berdoa” juga kalimat yang membuatku lebih bersemangat untuk mengerjakan ini. Bismillah. 10 menit, 30 menit, 1 jam, akhirnya aku selesai juga. Kukira, soal ini termasuk mudah, untuk siswa yang belajar tentunya. Waktu sudah selesai, pengawas sudah mengambil lembar jawabku. Aku hanya ingin mereka bangga, Tuhan..

Terakhir, saatnya pengumuman siapa pemenang lomba Sains tingkat nasional ini. Gelisah, gugup, khawatir, semua rasa berbaur menjadi satu. Juara 3, Juara 2, semua sudah dipanggil. Aku? Oh Tuhan, aku kalah.
“Dan yang berhasil menjadi juara 1 adalaahh, Hanifa Rasyida…”
Benarkah? Benarkah itu namaku? Dipanggil ke atas panggung menjadi juara 1? Terimakasih Tuhan, Kau mendengar doaku.. Aku segera melangkah menaiki tangga untuk naik ke atas panggung yang sudah disiapkan. Kuterima medali, sertifikat tanda kemenanganku, dan sejumlah uang untuk uang saku. Sayangnya, ayah, ibu, serta kembaranku Ranifa Rasyida tak berada bersamaku disini. Menyaksikan suatu kemenangan salah satu anggota keluarganya. Mungkin ini mustahil..

Sampai di rumah, kuceritakan semuanya pada keluargaku. Namun, tetap saja, mereka tidak sedikitpun bangga dan peduli padaku. Dia selalu mendahulukan kepentingan kembaranku daripada aku. Tetapi kali ini semburat wajah ibuku terlihat sangat pucat dan dingin. Apa yang terjadi pada ibuku?
“Apakah ibu tidak apa-apa? Muka ibu terlihat sangat pucat, bu..” tanyaku sangat peduli pada ibuku ini.
“Ah sudahlah. Tidak usah mencari muka pada ibu! Ibu juga tidak apa-apa!..” jawab Rani, kembaranku dengan ketusnya.
“Pergilah, urus hidupmu! Ibu tak perlu bantuanmu! Pergi!”
DEG!
Jantungku terasa berhenti sesaat. Dunia berhenti berputar. Otakku tak mampu berjalan. Mataku tak dapat membendung semua air mata yang ingin jatuh ke pipiku. Apakah ibu sekejam itu padaku? Apakah ibu sebenci itu padaku? Tak terasa tubuhku sudah berlari menjauhi mereka. Tak dapat lagi aku menyembunyikan rasa sakit hatiku. Aku menjauh, jauh, dan sangatlah jauh. Hingga aku merasa tak kuat lagi menahan siksa hidupku ini. Lebih baik aku menghindar dari Ibu dan Rani daripada harus membuat amarah mereka meninggi setiap hari karena aku.

Ku putuskan untuk menginap di rumah bibiku. Terletak sangat jauh dari rumah ibu. Ibu sangatlah berbanding terbalik dengan bibi. Ibu yang amat sangat kejam, selalu memarahiku, dan selalu menyiksaku dengan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan oleh ibu kepada sang anak. Sedangkan bibi, beliau sangatlah baik, perhatian, menyemangatiku untuk berprestasi lebih tinggi lagi.

2 bulan berlalu begitu cepat, tanpa ibu dan Rani. Aku ingin menemui mereka, aku sangat rindu dengan mereka. Mungkin, keputusanku ini terlihat bodoh. Tapi, apa salahnya menemui anggota keluargaku sendiri yang amat aku sayangi. Dengan menaiki sepeda yang dibelikan bibiku, aku segera pergi ke rumah ibu.
Sampai disana. Terdengar tangisan Rani yang meraung-raung. Aku segera masuk dan melihat semuanya. Tampak ibu yang tergeletak lemas di kasurnya serta Rani yang duduk diujung kasur. Wajah ibu tampak sangat pucat. Entah penyakit apa yang sebenarnya diderita ibu. Ibu dan Rani memang tidak terbuka denganku. Segera ku menelepon bibi untuk menyuruhnya memanggil ambulan.

Di rumah sakit, aku sungguh merasa khawatir dengan keadaan ibu. Rani yang sangat benci padaku tak mau berkata apa-apa tentang ibu padaku. Suasana hening membuat isakan tangisku terdengar samar-samar. Tiba-tiba, dokter keluar dari ruangan ibu. Menyuruhku untuk mengikutinya. Tak tau alasan apa dokter itu menyuruhku, bukan Rani.
Sekata demi sekata, ku dengar dengan jelas dari mulut dokter muda di hadapanku ini. Tak terasa sudah peluhku menetes deras. Saat ini, ibu sangat membutuhkanku. Demi ibu, orang yang sangatlah berjasa bagiku, aku akan rela berkorban apapun demi ibu. Aku hanya ingin ibu bahagia, walaupun tanpa ada aku di sampingnya.

Embun pagi sudah menyambut. Kicauan burung mungil terdengar jelas dari atas ranting pohon. Ibu sudah pulih, sudah mampu tertawa bercanda dengan Rani. Aku bahagia atas itu. Aku.. Hanya bisa tertutup kain putih. Masuk ke dalam ruangan yang di atasnya terdapat tulisan ‘Kamar Jenazah’. Kini, aku tak mampu lagi menemui ibu, tak mampu melihat senyum manis ibu walaupun alasannya bukan aku. Aku mendonorkan ginjal dan hati ku untuk ibu, sang pelita kegelapanku. Aku hanya bisa tersenyum, dalam dunia berlainan dengan Ibu dan Rani. ‘Aku ada karena ibu, aku tiada untuk ibu..’

“Terima kasih Tuhan, telah membuat ibuku dapat tersenyum kembali. Tanpa ada pengganggu di sampingnya. Buatlah Rani menjadi anak yang baik, Tuhan. Walaupun ibu tak peduli dengan prestasiku, tapi paling tidak, ibu bisa tersenyum bahagia karena Rani. Aku bisa tersenyum melihat mereka tertawa bahagia, walaupun bukan karena aku..”

Sumber : CLICK

0 komentar:

Posting Komentar